Wednesday, June 22, 2016

Plis Plis

Kalau saya marah, bisa minta tolong jangan balik marah?
Kalau saya diam, bukan berarti saya tidak memperhatikan
Setiap nama seseorang disebutkan dari lisan maupun tulisanmu dan terdengar oleh telinga saya
Rasanya seperti membandingkan bumi dengan langit
Yah, antara saya dengan dia
Lalu kalau saya bumi dan dia langit, apakah itu berarti langit lebih baik daripada bumi?
Coba pikirkan
Ketika saya katakan saya sudah tak ada urusan dengan dia. Tolong jangan ungkit lagi. Jangan sebutkan dulu nama itu walau tak ada maksud seujung kuku
Bukan karena saya benci, tidak suka, atau marah  karena saya tidak pernah diajari semua itu.
Tapi itu demi proses memaafkan
Demi proses perbaikan hati, demi menjaga hati saya agar lebih terbuka, lebih berpikir positif

Tapi saya sudah terlanjur katakan, saya abaikan perasaan itu
Apapun yang terjadi terjadilah  Que Sera Sera
Tinggal menanti kapan runtuhnya dinding pertahanan kesabaran atas perasaan itu
Atau semua yang terpendam akan muncul seperti bisul di anggota tubuh
Silakan renungkan


22062016 ----Jendela Mawar-----

Nikmat Yang Terlupakan

     Pukul 21.00 WIB, tang ting tang ting,, itu suara ringtone notifikasi dari grup tempat kerja saya. Ruang Mawar, ruangan yang terdiri dari 1 orang dokter umum, 1 orang perawat sebagai kepala ruangan, 2 orang ketua tim dan 7 orang perawat pelaksana. Saya masih bocah kalau dibandingkan senior-senior saya, otomatis saya masih di level perawat pelaksana alias Associate Nurse. 

    Rupanya notifikasi itu bukanlah hal yang menyenangkan, kupikir isinya tentang pemberitahuan adanya uamg makan yang masuk rekening atau jaspel 13 atau gaji 13, 14. Biasalah mayoritas isinya ibu-ibu muda nan kece, jadi soal duit harus jadi yang ter- update
 
----Teman- teman mohon bacakan surat Al Fatihah untuk suaminya Teh Nia, tadi kecelakaan. Saat ini ada di RSUD kabupaten tapi full, rencana mau ke RSU kota. Kesadarannya sopor katanya.---

Jlebb!! berasa ada yang tergores di hati, dan cairan bening agak menumpuk di ujung kornea mata. Refleks langsung mengucap Innalilahi wa inna ilaihi rojiun . Sebenarnya saya tidak terlalu akrab dengan suaminya teh Nia. Yang saya ingat, beliau sering sekali datang ke ruangan untuk antar jemput isteri tercintanya itu. Sosknya yang kalem dan berwibawa, tidak terlalu banyak bicara tapi terlihat tegas dan bertanggung jawab. Nah, Teh Nia itu adalah perawat senior di ruangan saya, walaupun sejak beberapa bulan yang lalu dia sudah dipindahkan ke kelas VIP. Beberapa kali Teh Nia mengajari saya cara berhadapan dengan pasien, keluarga pasien yang terkadang menyebalkan, sampai menghadapi para dokter spesialis yang berbeda karakternya. Suaminya itu ternyata lulusan FT UI juga, dan ketika saya main ke rumahnya, keluarga Teh Nia termasuk suaminya itu menyambut saya dengan sangat sangat menyenangkan. Makanya ketika saya mendengar kabar tersebut rasanya ada perasaan gelisah yang saya rasakan juga.

     Keesokan harinya, saya beserta teman-teman satu ruangan pergi menjenguk suaminya Teh Nia, post kraniotomi alias paska operasi kepala. Yap, kecelakaan lalu lintas, pengendara motor dengan kecepatan tinggi, menabrak sesuatu, helmnya terlempar, kepala terbentur aspal. Sudah pasti anggota tubuh yang mengalami cidera adalah kepala. CKB alias cedera kepala berat, dengan perdarahan tertentu. Operasi oleh spesialis bedah saraf selama 3 jam, masuk perawatan intensif (ICU) dengan pemasangan ventilator. Ya Allah, kasus yang selama ini hanya dipelajari, dilihat dari pasien, harus dialami oleh keluarga kawan dekat satu ruangan. 
Saya datang menyalami Teh Nia, memeluk dan mencoba memberi dukungan sebesar-besarnya. Saya merasakan betul beratnya beban Teh Nia, dia coba memberi rangsangan dan memanggil suaminya itu "ayah, ayah, bangun ayah, bunda disini"


Haduh Gusti Allah, saya memang bukan siapa-siapa Teh Nia, tapi melalui kejadian ini sebenarnya Allah sedang berusaha mengingatkan saya tentang wajibnya bersyukur. Apa jadinya jika itu terjadi pada diri saya atau keluarga saya. Kenapa selama ini saya masih menyepelekan urusan syukur dan mensyukuri? kalau hati terasa beban dan agak nyesek karna hal sepele. Apa salahnya kita melihat dua nikmat ini, dua nikmat yang jarang disadari, jarang diperhatikan dan itu dianggap biasa
. Ketika dua nikmat ini dicabut oleh Pemiliknya, baru kita sadari betapa nikmat ini luar biasa mahalnya
Dua hal itu adalah Nikmat Sehat dan Waktu Longgar


Alhamdulillahirobbil alaminn
Ya Allah hanya Engkau pemilik seluruh kebenaran, dan kami manusia hanya tempat salah dan lupa
Berikan kesembuhan bagi hamba MU yang sedang diuji dengan sakitnya.


#RamadhanHariKe17 #nersEka

Monday, June 20, 2016

Saxophone... (Part 1)

Semalam sekitar setengah 12 mlam tepatnya 11.22 pm, ada pesan masuk via whatsapp. Karena terlalu lengketnya mata untuk mengetahui siapa pengirim pesan tengah malam itu, akhirnya saya abaikan. Saat sahur, saya buka ternyata pesan audio berupa lagu instrumen, dan indah sekali didengar (bahkan untuk peyuka musik awam seperti saya). Alat musik itu rupanya alat musik tiup atau saxophone.
Agak-agak romantis sih musiknya tapi buat yang awam seperti saya cocoklah untuk pengantar tidur.
Nah, ini hal baru sih untuk saya yang sangaaat sangaat awam dengan musik, jadi saya akan coba mencari tahu apa sebenarnya saksofon itu, kenapa bisa terdengar manis di telinga dan siapa maestro alat musik ini.

Kalau menurut wikipedia, Saxophone"' adalah instrumen yang masih tergolong dalam aerophone, single-reed woodwind wood wind instrument. 
Nah apa itu aerophone? kalau kita dulu sempat dapat ilmu seni musik di SMP, alat musik itu terbagi atas beberapa jenis seperti:
1.  Idiophone yaitu alat musik yang bunyinya berasal dari alat musik itu sendiri, contohnya angklung
2. Chordophone yaitu alat musik, dimana alat musik itu asal bunyinya atau bisa berbunyi karena alat musik itu dimainkan dengan dawainya ditekan, dipetik atau gesek, yap contohnya gitar, piano atau biola
3. Membranophone, yaitu alat musik dimana bunyinya berasal dari alat yang harus dipukul, misalnya gendang, bedug atau drum, jadi istilahnya ada membrannya atau selaput yang menutupi ruang kosong dan dapat menghasilkan bunyi
4. Aerophone, kalau dengar kata aero, so pasti yang terlintas adalah padanan kata udara. Nah itu artinya alat musik jenis ini berarti bisa bunyi kalau ditiup, misalnya seruling, harmonika dan saksofon

Jadi sudah tahu ya saksofon ini termasuk ke jenis alat musik apa. Sekarang siapkan tenaga untuk meniup kalau mau belajar memainkan saksofon. Nah yang soal single reed, double reed, saya sudah berusaha cari tahu artinya nih, tapi kok ya ngga mudeng-mudeng . Intinya sih itu klasifikasi penghasil suara ketika alat musik tiup ditiup. Ternyata saksofon itu dibuat pertama kali pada tahun 1840 di Belgia oleh pembuat alat musik sekaligus pemain klarinet bernama Adolphe Sax, makanya dinamakan saxophone Nah muncul pertanyaan lagi dong, bedanya klarinet sama saksofon apa?

Kalau pemain piano disebut pianis, pemain gitar disebut gitaris, nah pemain saksofon bisa kita panggil saksofonis. Iiih cantik ya sebutannya. Katanya, saat ini saxophone yang paling umum digunakan adalah Soprano (Bb), Alto (Eb), Tenor (Bb), dan Baritone (Eb). Bedanya apa? wah kalau itu sihh perlu kursus musik dulu biar paham.
Nah ini beberapa nama pemain saksofon yang terkenal dan menjadi legenda yaitu: Coleman Hawkins,Stanley Turrentine,Zoot Sims,Charlie Parker,Joe Henderson

Nah saya menulis ini sambil mendengarkan video musik saksofon yang di mix dengan alat musik lain. Hehe maniss kayak gula
https://www.youtube.com/watch?v=6PAMdUGNPqU

 Hari ke 16 Ramadhan
#BelajarMenyukaiHalBaru, #LittleNersStory #Tangerang

Saturday, March 15, 2014

Tentang kusta, penyakit tidak mematikan tapi memalukan

Pengertian
    Penyakit kusta adalah penyakit menular, menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae) yang menyerang saraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya kecuali susunan saraf pusat (Kemenkes RI, 2007).

Penyebab
    M. Leprae atau kuman Hansen adalah kuman penyebab penyakit kusta yang ditemukan oleh sarjana dari Norwegia, GH Armouer Hansen pada tahun 1873.  Kuman ini bersifat tahan asam berbentuk batang dengan ukuran 1,8 micron, lebar 0,2-0,5 micron. Biasanya ada yang berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin dan tidak dapat di kultur dalam media buatan. Kuman ini dapat mengakibatkan infeksi sistemik pada binatang Armadillo. (Kemenkes RI, 2007).

Perjalanan Klinis Penyakit Kusta
    Perjalanan klinik penyakit kusta merupakan suatu proses yang lambat dan menahun sehingga seringkali penderita tidak menyadari adanya proses penyakit didalam tubuhnya. Sebagian besar penduduk yang tinggal di daerah endemis kusta pernah terinfeksi oleh kumanM. Leprae. Proses ini berjalan sangat lambat sebelum munculnya gejala klinis yang pertama. Setelah melewati masa inkubasi yang cukup panjang (sekitar 2-5 tahun) akan muncul gejala awal (Kemenkes RI, 2007).
   M. Leprae lebih menyukai berada di daerah-daerah yang relatif lebih dingin. Sebenarnya M. Leprae memiliki keganasan dan dayainvasive yang rendah, sebab penderita yang memiliki kuman lebih banyak belum tentu memberikan gejala yang lebih berat, bahkan dapat sebaliknya. Ketidakseimbangan antara derajat infeksi dengan derajat penyakit tidak lain disebabkan oleh respon imun yang berbeda yang mendorong timbulnya reaksi granuloma setempat atau menyeluruh yang dapat sembuh sendiri atau progresif. Oleh karena itu penyakit kusta disebut sebagai penyakit imunologi. Gejala-gejala klinisnya lebih sebanding dengan tingkat reaksi selulernya daripada intensitas infeksinya. (Kosasih, 1987)

Cara Penularan
    Meskipun cara masuk kuman M. Leprae ke tubuh belum diketahui pasti, beberapa penelitian menyebutkan bahwa kuman dapat masuk melalui kulit yang lecet pada bagian tubuh bersuhu dingin dan melalui mukosa nasal (hidung).
    Penularan terjadi apabila kuman M. Leprae yang utuh (hidup) keluar dari tubuh penderita dan masuk kedalam tubuh orang lain. Belum diketahui secara pasti bagaimana cara penularan penyakit kusta. Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yanglama dengan penderita. Penderita yang sudah minum obat sesuai regimen WHO tidak  menjadi sumber penularan kepada orang lain.
    Tempat masuk kuman kusta ke dalam tubuh penderita sampai saat ini belum dapat dipastikan. Diperkirakan cara masuknya adalah melalui saluran pernapasan bagian atas dan melalui kontak kulit yang tidak utuh. (Kemenkes RI, 2007).

Masa Inkubasi
    Penyakit kusta merupakan penyakit menahun karena timbulnya tanda pertama penyakit membutuhkan waktu bertahun-tahun setelah kuman kusta masuk tubuh seseorang. Diperkirakan masa inkubasi (masa saat kuman masuk tubuh sampai menimbulkan tanda pertama sakit) penyakit ini  adalah 2-5 tahun (Kemenkes RI, 2007). 

Gejala Klinik
    Infeksi subklinis adalah saat kuman kusta telah masuk tetapi individu tersebut tidak menunjukkan adanya gejala klinis dari penyakit. Adanya kuman yang masuk diketahui dari pemeriksaan laboratorium, bisa secara bakteriologik yaitu dengan ditemukannya kuman atau bisa secara imunologik sebagai akibat masuknya kuman kedalam tubuh (Kemenkes RI, 2007).

Diagnosis Penyakit Kusta
    Penyakit kusta adalah penyakit menular, menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium Leprae) yang menyerang saraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya kecuali susunan saraf pusat (Kemenkes RI, 2007). Atas dasar definisi tersebut maka untuk mendiagnosis kusta dicari kelainan-kelainan yang berhubungan dengan gangguan saraf tepi dan kelainan-kelainan yang tampak pada kulit.
    Bentuk kelainan penderita bervariasi mulai dari keluhan adanya kulit yang tidak berasa, rasa kesemutan, nyeri saraf ataupun adanya gangguan akibat kelumpuhan otot pada tangan dan kaki. Untuk menetapkan diagnosis penyakit kusta perlu dicari tanda-tanda utama atau cardinal sign pada tubuh, yaitu (Kemenkes RI, 2007) :
Tanda-tanda tersangka kusta (suspek) (Kemenkes RI, 2007) :
1. Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa
    Kelainan kulit/lesi dapat berupa bercak keputih-putihan (hypopigmentasi) atau kemerah-merahan (erithematous) yang mati rasa.
2. Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf. Gangguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan kronis saraf tepi (neuritis perifer). Gangguan fungsi saraf ini bisa berupa :
    -Gangguan fungsi sensoris : mati rasa
    -Gangguan fungsi motoris : kelemahan otot (parese) atau kelumpuhan (paralise).
    -Gangguan fungsi otonom : kulit kering dan retak-retak.
3. Adanya bakteri tahan asan (BTA) di dalam kerokan jaringan kulit (BTA positif).
    Seseorang dinyatakan sebagai penderita kusta bilamana terdapat satu dari tanda-tanda utama di atas. Pada dasarnya sebagian besar penderita dapat didiagnosis dengan pemeriksaan klinis, namun demikian pada penderita yang meragukan dapat dilakukan pemeriksaan kerokan kulit. Apabila hanya ditemukan tanda-tanda utama atau hasil masih meragukan, maka orang tersebut dianggap sebagai penderita yang dicurigai mengidap kusta (suspek).
Tanda-tanda tersangka kusta (suspek) (Kemenkes RI, 2007) :
1. Tanda-tanda pada kulit
    - Bercak/kelainan kulit yang merah atau putih dibagian tubuh
    - Kulit mengkilap
    - Bercak yang tidak gatal
    - Adanya bagian-bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak memiliki rambut
    - Lepuh akan tetapi tidak nyeri
2. Tanda-tanda pada saraf
    - Rasa kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota tubuh atau wajah.
    - Gangguan gerak anggota tubuh atau bagian wajah
    - Adanya kecacatan (deformitas)
    - Luka (ulkus) yang tidak kunjung sembuh.
Klasifikasi Penyakit Kusta
    Sebenarnya dikenal banyak jenis klasifikasi penyakit kusta yang cukup menyulitkan, misalnya klasifikasi Madrid, klasifikasi Ridley-Jopling, klasifikasi India dan WHO. Sebagian besar penentuan klasifikasi ini didasarkan pada tingkat kekebalan tubuh (kekebalan seluler) dan jumlah kuman.
    Pada tahun 1982 sekelompok ahli WHO mengembangkan klasifikasi untuk memudahkan pengobatan di lapangan. Dalam klasifikasi ini seluruh penderita kusta hanya dibagi dalam 2 tipe yaitu tipe Paucibacillar (PB) dan tipe Multibacillary (MB). Dasar dari klasifikasi ini adalah gambaran klinis dan hasil pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) melalui skin smear
    Pada pertengahan tahun 1997, WHO Expert Committee menganjurkan klasifikasi kusta menjadi PB lesi tunggal (Single lesion), PB lesi 2-3 dan MB. Sampai sekarang secara nasional pengobatan PB lesi tunggal disamakan dengan PB lesi 2-3.

Reaksi Kusta
    Satu karakteristik dari penyakit kusta yang menjadi penyebab terjadinya cacat adalah terjadinya peradangan yang mengenai saraf(neuritis). Reaksi kusta adalah suatu episode dalam perjalanan kronis penyakit kusta yang merupakan suatu reaksi kekebalan (cellulair respons) atau reaksi antigen antibody (humoral respons) dengan akibat yang merugikan penderita, terutama jika mengenai saraf tepi karena menyebabkan gangguan fungsi (cacat).
    Reaksi kusta dapat terjadi sebelum pengobatan, tetapi terutama terjadi selama atau setelah pengobatan. Gambaran klinisnya sangat khas berupa merah, panas, bengkak, nyeri dan dapat disertai gangguan fungsi saraf. Namun tidak semua gejala reaksi serupa. Penyebab pasti terjadinya reaksi masih belum jelas. Diperkirakan bahwa sejumlah faktor pencetus memegang peranan penting.

Beberapa diantaranya adalah :
1. Penderita dalam kondisi stress fisik, karena :
    - Kehamilan, setelah melahirkan (masa nifas)
    - Sesudah mendapatkan imunisasi
    - Penyakit-penyakit infeksi penyerta, misalnya malaria, kecacingan, karies gigi.
    - Anemia
    - Kurang gizi
    - Kelelahan
2. Penderita dalam kondisi stress mental, karena :
    - Malu
    - Takut
3. Lain-lain seperti pemakaian obat-obatan yang meningkatkan kekebalan tubuh.
    Ditinjau dari proses terjadinya, maka reaksi kusta dibagi menjadi 2 tipe. Reaksi tipe 1 atau reaksi reversal, dan reaksi tipe 2 atauerythema nodusum leprosum (ENL). Reaksi tipe 1 diduga diperantarai oleh mekanisme imunitas seluler, sementara reaksi tipe 2 oleh imunitas humoral.
1. Reaksi tipe 1
    Reaksi ini lebih banyak terjadi pada penderita-penderita yang berada pada Spectrum Borderline (borderline lepromatous, borderline borderline, borderline tuberculoid). Disebut demikian karena posisi borderline ini merupakan tipe yang tidak stabil. Reaksi ini terutama terjadi selama pengobatan dan terjadi karena peningkatan hebat respon radang pada daerah kulit dan saraf yang terkena penyakit ini. Dari sudut pandang pembasmian bakteri, respon upgrading bisa menguntungkan. Tetapi, inflamasi pada jaringan saraf dapat mengakibatkan kerusakan dan kecacatan yang timbulnya dalam hitungan hari, jika tidak ditangani dengan adekuat.
    Gejala-gejala reaksi tipe 1 ini dapat dilihat berupa perubahan pada kulit, maupun saraf dalam bentuk peradangan. Kulit merah, bengkak, nyeri dan panas. Pada saraf, manifestasi yang terjadi berupa nyeri atau gangguan fungsi saraf. Kadang-kadang dapat terjadi gangguan keadaan umum penderita  seperti demam dan lain-lain.
    Reaksi kusta tipe 1 ini dapat dibedakan atas reaksi ringan dan reaksi berat dengan pemeriksaan POD (Prevention of Dissability).
2. Reaksi tipe 2
    Terjadi pada penderita tipe MB dan merupakan reaksi humoral karena tingginya respons imun humoral pada penderita borderline lepromatous (BL) dan lepromatous lepromatous (LL), dimana tubuh membentuk antibodi karena salah satu protein M. Leprae tersebut bersifat antigenic. Banyaknya antibodi yang terbentuk disebabkan oleh banyaknya antigen (protein kuman). Antigen yang ada akan bereaksi dengan antibodi dan akan mengaktifkan sistem komplemen membentuk kompleks imun : Antigen + Antibodi + Komplemen. Kompleks imun tersebut akan menimbulkan respon peradangan dan akan terdegradasi dalam beberapa hari. Oleh karena reaksi yang terjadi (pada kulit) nampak sebagai kumpulan nodul merah, maka disebut sebagai ENL (erythema nodusum leprosum) dengan konsistensi lunak dan nyeri. Kompleks imun tersebut umumnya terjadi ekstravaskuler, beredar dalam sirkulasi darah sehingga dapat mengendap ke berbagai organ, terutama pada lokasi dimana M. Leprae berada dalam konsentrasi tinggi : yaitu pada kulit, saraf, limfonodus, dan testis. Umumnya menghilang dalam 10 hari atau lebih, dan bekasnya kadang menimbulkan hiperpigmentasi. Perjalanan reaksi dapat berlangsung selama 3 minggu atau lebih.
    Untuk mengetahui perbedaan ringan dan berat reaksi tipe 1, dan tipe 2 dapat dilihat pada tabel berikut :
* Catatan : Bila ada reaksi pada lesi kulit yang dekat dengan saraf dikategorikan sebagai reaksi berat.
Penanganan Reaksi
    Sebelum memulai penanganan reaksi, terlebih dahulu lakukan identifikasi tipe reaksi yang dialami serta derajat reaksinya. Hal ini dapat dilihat dari hasil kesimpulan pemeriksaan pada format pencatatan pencegahan cacat (POD), yaitu :
    1. Adanya lagophtalmus baru terjadi dalam 6 bulan terakhir
    2. Adanya nyeri raba saraf tepi
    3. Adanya kekuatan otot berkurang dalam 6 bulan terakhir
    4. Adanya rasa raba berkurang dalam 6 bulan terakhir
    5. Adanya bercak pecah atau nodul pecah
    6. Adanya bercak aktif (meradang) diatas lokasi saraf tepi.
    Jika ada salah satu gejala diatas maka terdapat reaksi berat dan perlu diberikan obat anti reaksi.

Penanganan reaksi ringan
1. Berobat jalan, istirahat di rumah
2. Pemberian analgetik/antipiretik, obat penenang bila perlu
3. MDT diberikan terus dengan dosis tetap
4. Menghindari/menghilangkan faktor pencetus

Penanganan reaksi berat
1. Immobilisasi lokal/istirahat dirumah
2. Pemberian analgetik/antipiretik, obat penenang bila perlu
3. MDT tetap diberikan dengan dosis yang tidak diubah
4. Menghindari/menghilangkan faktor pencetus
5. Memberikan obat anti reaksi (prednisone, lamprene)
6. Bila ada indikasi rawat inap, penderita dikirim kerumah sakit
7. Reaksi tipe 2 berulang diberikan prednisone dan lamprene.
Cacat Kusta
Tingkat Kerusakan Saraf
    Sebagian besar masalah kecacatan pada penderita kusta ini terjadi akibat penyakit kusta yang terutama menyerang saraf perifer. Saraf perifer yang terkena akan mengalami beberapa tingkat kerusakan, yaitu :
1. Stage of involvement
    Pada tingkat ini saraf menjadi lebih tebal dari normal (penebalan saraf) dan mungkin disertai rasa nyeri tekan dan nyeri spontan pada saraf perifer tersebut, tetapi belum disertai gangguan fungsi saraf, misalnya anestesi atau kelemahan otot.
2. Stage of damage
    Pada tahap ini, saraf telah rusak dan fungsi saraf tersebut telah terganggu. Kerusakan fungsi saraf seperti kehilangan fungsi saraf otonom, sensoris dan kelemahan otot menunjukkan bahwa saraf tersebut telah mengalami paralisis lengkap tidak lebih dari 6-9 bulan. Penting sekali untuk mengenali tingkat kerusakan, karena dengan pengobatan pada tingkat ini kerusakan saraf yang permanen dapat dihindari.
3. Stage of destruction
    Pada tingkat ini saraf telah rusak secara lengkap. Diagnosis stage of destruction ditegakkan bila kerusakan atau paralisis saraf secara lengkap lebih baik dari satu tahun. Pada tingkat ini walaupun dengan pengobatan fungsi saraf tidak dapat diperbaiki.
Proses Terjadinya Cacat Kusta
    Terjadinya cacat tergantung dari fungsi serta saraf mana yang rusak. Diduga kecacatan akibat penyakit kusta dapat terjadi lewat 2 proses (Kemenkes RI, 2007) :
1. Infiltrasi langsung M. Leprae ke susunan saraf tepi dan organ (misalnya : mata)
2. Melalui reaksi kusta
    Secara umum fungsi saraf dikenal ada 3 macam fungsi saraf, yaitu fungsi motorik memberikan kekuatan pada otot, fungsi sensorik memberi sensasi raba, dan fungsi otonom mengurus kelenjar keringat dan kelenjar minyak. Kecacatan yang terjadi tergantung pada komponen saraf yang terkena. Apakah sensoris, motoris, otonom, maupun kombinasi dari ketiganya.
    Berikut adalah gambar yang menggambarkan proses terjadinya kecacatan akibat kerusakan dari fungsi saraf :
Gambar 1
Gangguan fungsi saraf tepi

    Sesuai patogenesisnya, susunan saraf yang terkena akibat penyakit ini adalah susunan saraf perifer, khususnya beberapa saraf berikut : saraf facialis, radialis, ulnaris, medianus, poplitea lateralis (peroneus communis) dan tibialis posterior. Kerusakan fungsi sensoris, motoris maupun otonom dari saraf-saraf tersebut secara spesifik memperlihatkan gambaran kecacatan yang khas.
Berikut adalah tabel yang memperlihatkan kecacatan karena terganggunya fungsi saraf-saraf tersebut.
Table 2
Fungsi saraf dan kecacatan
2.1.10.1 Klasifikasi kecacatan
    Kecacatan merupakan istilah yang luas yang maknanya mencakup setiap kerusakan, pembatasan aktivitas yang mengenai seseorang. Tiap penderita baru yang ditemukan harus dicatat tingkat cacatnya karena menunjukkan kondisi penderita pada saat diagnosis ditegakkan. Tiap organ (mata, tangan dan kaki) diberi tingkat cacat sendiri. Angka cacat tertinggi merupakan cacat untuk penderita tersebut (tingkat cacat umum).
    Tingkat cacat juga digunakan untuk menilai kualitas penanganan pencegahan cacat yang dilakukan oleh petugas. Fungsi lain dari tingkat cacat adalah untuk menilai kualitas penemuan dengan melihat proporsi cacat tingkat 2 diantara penderita baru.

Tabel 3
Klasifikasi tingkat kecacatan di Indonesia
1. Cacat tingkat 0
    Cacat tingkat 0 artinya tidak ada cacat
2. Cacat tingkat 1     :
    Adalah cacat yang disebabkan oleh kerusakan saraf sensoris yang tidak terlihat seperti hilangnya rasa raba pada kornea mata, telapak tangan dan telapak kaki. Gangguan fungsi sensoris pada mata tidak diperiksa di lapangan, karena itu tidak ada cacat tingkat 1 pada mata.
    Cacat tingkat 1 pada telapak kaki berisiko terjadinya ulkus plantaris, namun dengan perawatan diri secara rutin hal ini dapat dicegah.
Mati rasa pada bercak bukan merupakan cacat tingkat 1 karena bukan disebabkan oleh kerusakan saraf perifer utama tetapi rusaknya saraf lokal kecil pada kulit.
3. Cacat tingkat 2 berarti cacat atau kerusakan yang terlihat.
Untuk mata :
- Tidak mampu menutup mata dengan rapat (lagopthalmus)
- Kemerahan yang jelas pada mata (terjadi ulserasi kornea atau uveitis)
- Gangguan penglihatan berat atau kebutaan
Untuk tangan dan kaki :
- Luka dan ulkus ditelapak
Deformitas yang disebabkan oleh kelumpuhan otot (kaki semper atau jari kontraktur) dan atau hilangnya jaringan (atrophi) atau reabsorbsi parsial jari-jari.
Jenis Cacat Pada Penyakit Kusta
    Kecacatan yang timbul pada penyakit kusta juga dapat dikelompokkan menjadi cacat primer dan cacat sekunder. Cacat primer adalah cacat yang langsung disebabkan oleh serangan M. Leprae pada jaringan, termasuk kerusakan akibat reaksi tubuh terhadap infeksi tersebut. Cacat sekunder merupakan cacat yang tidak langsung disebabkan oleh penyakit kusta itu sendiri, melainkan akibat dari cacat primer seperti anestesi atau paralisis anggota tubuh. Kebanyakan cacat pada penderita kusta disebabkan secara tidak langsung oleh luka-luka sekunder pada tangan, kaki atau mata yang telah hilang rasa.

Patogenesis Cacat Crimer
    Cara penularan kusta yang paling banyak dianut para ahli adalah lewat saluran pernafasan bagian atas. Pada orang yang sensitif maka M.Leprae magrofag di alveolus akan mengalami multiplikasi, kemudian lewat sistem limfatik pulmonal masuk ke pembuluh darah dan menyebar ke seluruh tubuh.
    Keadaan selanjutnya tergantung pada sistem imunitas selular penderita terhadap M.Leprae. sebagian besar yang kontak dengan M.Leprae tidak mengalami gejala klinik, sedang pada penderita dengan respon imun selular rendah akan timbul diseminasi infeksi yang memberi gambaran kusta lepromatosa. Penderita dengan respon imunitas selular yang kuat terhadap M.Leprae maka infeksi akan dilokalisasikan di beberapa bagian tubuh yang akan menimbulkan gejala kusta tuberculoid.
    Walaupun saraf paling mudah terserang infeksi M.Leprae, tetapi tidak semua jenis saraf dan batang saraf akan mengalami kerusakan. Beberapa hal yang menyebabkan jenis saraf tertentu menjadi mudah rusak adalah letaknya superficial, suhu lebih rendah, rawan terhadap trauma dan tekanan, dekat dengan tulang dan tendon, terletak pada celah osteofasial yang kaku sehingga mudah terjadikonstruksi. Beberapa saraf yang memenuhi tersebut antara lain nervus ulnaris di proksimal sendi siku nervus medianus di proksimaltulang carpal dan proksimal sendi siku, nervus radialis ditempat melingkar humerus dibawah insersi otot deltoidnervus paroneus diproksimal collum fibulenervus tibialis posterior di proksimal alleolus medialis, nervus fasialis cabang temporal dan zygomaticus, dannervus trigeminus. Bryceston A & Pfaltzgraf (1990).

Termasuk Cacat Primer adalah :
1. Cacat pada fungsi saraf sensorik seperti anesthesia, fungsi saraf motorik adalah claw handfood drop, dan cacat pada fungsi otonom dapat menyebabkan kulit menjadi kering dan elastisitas kulit berkurang, serta gangguan reflek vasodilatasi.
2. Infiltrasi kuman pada kulit dan jaringan sub kutan menyebabkan kulit berkerut dan berlipat-lipat. Kerusakan folikel rambut menyebabkan madorosis, kulit kering tidak elastis.
3. Cacat pada jaringan lain akibat infiltrasi kuman kusta dapat terjadi pada tendon, ligament, sendi, tulang rawan dan bola mata.

Patogenesis Cacat Sekunder
    Cacat sekunder terjadi akibat cacat primer, karena tidak dicegah dengan pengobatan sedini mungkin, cacat tersebut akibat adanya kerusakan saraf (sensorik, motorik dan otonom). Anestesi akan memudahkan terjadinya luka akibat trauma mekanis atau termis yang dapat mengalami infeksi sekunder dengan segala akibatnya. Anestesi ini menyebabkan penderita mudah terkena luka bakar, air panas atau benda panas lainnya, luka tusuk atau luka iris sering tidak dirasakannya. Luka yang tidak dirawat ini akan berlanjut menjadi ulserasiluas, terjadi infeksi sekunder yang selain menghambat penyembuhan luka, juga menimbulkan osteomielitis yang menimbulkan kerusakan pembuluh darah kulit yang menyebabkan hilangnya tonus pembuluh darah dan bendungan kapiler. Bryceston.A & Pfalitzgraf (1990).
    Kelumpuhan motorik menyebabkan kontraktur sehingga dapat menimbulkan gangguan mengenggam atau berjalan, juga memudahkan terjadinya luka. Kehilangan jaringan, terjadi pada jaringan otot yang mengecil setelah mengalami kelemahan dan kelumpuhan otot. Demikian pula lagoptalmus dapat menyebabkan kornea kering sehingga mudah timbul keratitis. Kelumpuhan saraf otonom menyebabkan kulit kering dan elastisitas berkurang. Hal ini menyebabkan kulit retak dan dapat terjadi infeksi sekunder.
Pencegahan Cacat
    Tujuan umum pencegahan cacat adalah jangan sampai ada cacat yang timbul atau bertambah berat setelah penderita terdaftar dalam program pengobatan dan pengawasan. Usaha pencegahan cacat diperhatikan agar penderita yang berobat tingkat cacatnya tidak bertambah dengan ditangani oleh petugas kesehatan. Setiap kali penderita mengambil obat di Puskesmas, petugas harus memeriksa kondisi tubuh mulai dari kepala, tangan dan kaki. Petugas perlu memberikan nasihat cara pencegahan cacat pada daerah yang sering menimbulkan cacat.
    Tujuan pencegahan cacat pada kusta menurut Wisnu dan Gudadi (1997)  adalah sebagai berikut :
1. Mencegah timbulnya cacat pada saat diagnosis kusta ditegakkan dan diobati, untuk tujuan ini diagnosis dini dan terapi rasional perlu ditegakkan dengan cepat dan tepat.
2. Mencegah agar cacat yang telah terjadi tidak menjadi lebih berat. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan :
    - Melindungi dan menjaga tanga dan kaki yang anestesi
    - Melindungi mata dari kerusakan dan menjaga penglihatan
    - Menjaga fungsi saraf
3. Menjaga agar cacat yang telah baik tidak kambuh lagi
    Langkah-langkah yang perlu dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut yaitu dengan melakukan pencatatan data dasar setiap pasien pada waktu registrasi. Untuk itu telah disediakan lembaran pencatatan pencegahan cacat yang perlu diisi dengan cermat.
Dilakukan pemeriksaan penderita meliputi :
1. Pemeriksaan mata
Pemeriksaan mata penderita, apakah berkedip secara teratur atau salah satu mata berkedip terlambat, pemeriksaan visus berkurang atau tidak.
2. Pemeriksaan tangan
Nyeri tekan pada syaraf, dapat dilihat dari raut muka penderita. Saraf ulnaris dapat diraba diatas siku bagian dalam, kekuatan otot dan rasa raba.
3. Pemeriksaan kaki
Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan nyeri tekan pada saraf, kekuatan otot dan rasa raba. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut kemudian dilakukan tindakan :
    - Menentukan apakah penderita sedang dalam keadaan reaksi berat yang perlu diobati dengan prednison. Menentukan dan mengobati reaksi berat sedini mungkin merupakan salah satu aspek pencegahan yang terpenting.
    - Bila penderita dengan reaksi berat tidak ditangani cepat dan tepat, kemungkinan besar akan timbul cacat yang menetap.
    - Mengajarkan cara merawat diri kepada penderita dengan cacat yang sudah menetap. Perlu dijelaskan pada penderita bahwa cacat yang menetap tidak dapat disembuhkan lagi karena sudah terlambat, tetapi perlu dilakukan upaya untuk mencegah kecacatan bertambah berat dengan melakukan perawatan terhadap diri sendiri.
Upaya Pencegahan Cacat
    Upaya pencegahan cacat kusta jauh lebih baik dan lebih ekonomis daripada penanggulangannya. Pencegahan ini harus dilakukan sedini mungkin, baik oleh petugas kesehatan maupun oleh penderita itu sendiri dan keluarganya.
    Disamping itu untuk mengubah pandangan yang salah dari masyarakat antara lain bahwa kusta identik dengan kecacatan. Upaya pencegahan cacat terdiri atas :
Upaya Pencegahan Cacat Primer
Kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam upaya pencegahan cacat primer adalah sebagai berikut:
1. Diagnosis dini
2. Pengobatan secara teratur dan adekuat
3. Diagnosis dini dan penatalaksanaan neuritis, termasuk silent neuritis
4. Diagnosis dini dan penatalaksanaan reaksi
    Karena kecacatan kusta adalah akibat gangguan saraf perifer, maka pemeriksaan saraf perifer harus dilakukan secara teliti dan benar, namun cukup sederhana dan murah. Pemeriksaan ini meliputi :
1. Pemeriksaan fungsi sensorik
Untuk fungsi ini perlu diperiksa fungsi saraf sensorik telapak tangan pada daerah yang disarafi oleh nervus ulnaris dan medianus. Pada daerah telapak kaki adalah untuk daerah yang disarafi oleh nervus Tibialis posterior
2. Pemeriksaan fungsi motorik
Alat pengukut yang dipakai adalah MMT (Manual Muscle Testing) dan VMT (Volume Muscle Testing)
3. Pemeriksaan fungsi otonom
Fungsi otonom diperiksa dengan cara memeriksa kebasahan telapak tangan maupun kaki dengan menggenggam tangan penderita (fungsi kelenjar keringat). Pada keadaan dini, bila berbagai gangguan cepat diketahui, maka dengan terapi medikamentosa serta tindakan perlindungan saraf dari kerusakan lebih lanjut, maka hasilnya akan sangat baik (Kemenkes, 2002).
Upaya Pencegahan Cacat Sekunder
Kegiatan yang perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan cacat sekunder, antara lain :
1. Perawatan diri sendiri untuk mencegah luka.
2. Latihan fisioterapi pada otot yang mengalami kelumpuhan untuk mencegah terjadinya kontraktur.
3. Bedah konstruksi untuk koreksi otot yang mengalami kelumpuhan agar tidak mendapat tekanan yang berlebihan
4. Bedah septik untuk mengurangi perluasan infeksi sehingga pada proses penyembuhan tidak terlalu banyak jaringan yang hilang
5. Perawatan mata, tangan dan kaki yang anestesi atau mengalami kelumpuhan otot.

Friday, January 17, 2014

RINDU Nge-BLOG ,,tsaah

Setelah beberapa tahun vakum,,kini saya muncul lagi dengan banyak cerita seru.
Tahun 2013 yang berhasil saya lewati, target yang tidak besar, saya hanya ingin menikmati tahun-tahun awal bekerja di klinik, sebelum saya selamanya di rumah sakit, sebagai pns mungkin, atau lanjut magister atau dilamar orang,, *haha ngarep
 Keceriaan dengan rekan satu tim di ruangan, bersama pasien-pasien saya, bersama orang tua dan adik-adik saya. Juga dengan seseorang,,(ehem)

Yang pasti tahun 2013 lalu adalah tahun kesyukuran untuk saya, tahun adaptasi dengan pola hidup sehari-hari yang jauh berbeda. Tidur pagi, melek malam, libur di hari kerja, kerja di hari libur, setiap hari berkutat dengan pasien-pasien kanker yang ujung-ujungnya ke lubang 2x1 meter.
Menahan emosi, melatih kesabaran, bahkan diperlakukan sebagai pembantu, semua harus saya tahan, karena saya tahu prognosis mereka sangat buruk.
Haha, kalau egoisme saya muncul, maka saya bukanlah malaikat pendukung mereka, melainkan saya terkenal sebagai Ners galak lagi jutek, tapi segalak-galaknya saya, saya tetap paling perhatian sama mereka, semoga mereka tidak mendoakan yang jelek-jelek untuk saya. Amin. Saya sering memarahi pasien dan keluarganya kalau mereka tidak nurut terhadap peraturan ruangan atau dengan anjuran saya. Saking galaknya saya, saya sering diancam akan dilaporkan ke supervisor, kepala ruangan saya atau bahkan direktur rumah sakit. Haha, yang ada saya tantangin aja sekalian. Silakan kalau mau komplain, karena saya selalu bekerja sesua dengan standar prosedur. Saya tidak takut walaupun keluarga pasien banyak yang mengaku dari kalangan wartawan dan media atau LSM sekaligus.
Ah, saya tahu Indonesia itu masih menganggap profesi perawat dengan sebelah mata, dan gertakan dari pasien-pasien KJS itu hanya gertak sambal. Buktinya pasien-pasien saya sering memaksa memberikan uang tips ke saya, ya ampun, maaf pasien KJS, dapat perawatan gratis, berani ngasih tips ke perawat?? gratifikasi!!! tolak duluan, yang ada mereka semakin semena-mena ngerjain saya. ^_^

Yang pasti, saya tetap cinta dengan pekerjaan saya

Hidup perawat Indonesia

cheers Ners_Eka ^_^

Wednesday, October 31, 2012

#Oncology Nurse

They must understand the basic genetics, biochemistry and physiology of cancer. 
They must be familiar with the most common cancer treatments, including surgery, chemotherapy and radiation
They must be prepared to deal with the many side effects of cancer treatment. 
Cancer nurses should also be compassionate. Cancer is much more than a physical disease; cancer affects every aspect of a patient's being. 

Oncology nurses help patients and their families negotiate some pretty dark days. Cancer nurses are also experts in pain control.

^_^

Wednesday, October 17, 2012

SADARI

Kanker memang tak gampang diobati, tapi bukan tak mungkin memberantasnya sampai tuntas, terutama kalau masih dalam tahap dini.
Karena itu deteksi dini kanker sangatlah perlu. Kita dapat melakukannya sendiri di rumah melalui SADARI (periksa payudara sendiri) sebulan sekali.
Tapi jangan lakukan kalau sedang mens, tunggulah beberapa hari setelah selesai. 

Caranya mudah :
1. Berdiri tegak di depan cermin dengan tangan tergantung lepas. Perhatikan ukuran, bentuk dan warna payudara.
Apakah bentuk dan ukurannya kanan dan kiri simetris?
Apakah bentuknya membesar/mengeras?
Apakah arah putingnya lurus ke depan? Atau berubah arah?
Apakah putingnya tertarik ke dalam?
Apakah puting/kulitnya ada yang lecet?
Apakah kulitnya tampak kemerahan? Kebiruan? Kehitaman?
Apakah kulitnya tampak menebal dengan pori-pori melebar (seperti kulit jeruk)?
Apakah permukaan kulitnya mulus, tidak tampak adanya kerutan/cekungan?

2. Pijat
Dengan kedua belah tangan, secara lembut pijat payudara dari tepi hingga ke puting, untuk untuk mengetahui ada-tidaknya cairan yang keluar dari puting susu (seharusnya tidak ada, kecuali Anda sedang menyusui).

3. Raba
Berbaringlah di atas tempat tidur untuk memeriksa payudara satu demi satu.
Gunakan keempat jari tangan kanan yang saling dirapatkan untuk meraba payudara. Rabaan dilakukan dengan gerakan memutar (seperti membuat lingkaran kecil-kecil), mulai dari tepi payudara hingga ke puting susu. Sesudah itu geser posisi jari sedikit ke sebelahnya, dan lakukan lagi gerakan memutar dari tepi payudara sampai puting susu.
Bila dalam pemeriksaan payudara sendiri ini Anda menemukan suatu kelainan (misal benjolan, sekecil apa pun), segera periksakan ke dokter. Jangan takut dan jangan tunda lagi. 

(Dicuplik dari http://rumahkanker.com/)